Rabu, 12 Januari 2011

askep asd/ vsd

Askep anak dengan ASD/ VSD



DI SUSUN OLEH
M.IHSAN


PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN
YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM
PONTIANAK
2010-2011

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di antara berbagai kelainan bawaan (congenital anomaly) yang ada, penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan kelainan yang sering ditemukan. Di amerika serikat, insidens penyakit jantung bawaan sekitar 8 – 10 dari 1000 kelahiran hidup, dengan sepertiga di antaranya bermanifestasi sebagai kondisi kritis pada tahun pertama kehidupan dan 50% dari kegawatan pada bulan pertama kehidupan berakhir dengan kematian penderita. Di indonesia, dengan populasi lebih dari 200 juta penduduk dan angka kelahiran hidup 2%, diperkirakan terdapat sekitar 30.000 penderita (www.google//http.inside rate of atrium septal defect.com)
Berdasar data diatas maka penulis merasa tertarik untuk menyusun makalah tentang Atrium Septal Defect dam Ventrikel Septal Devect dan asuhan keperawatannya.

B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dari laporan kasus ini adalah:
1. Meningkatkan pengetahuan mengenai asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem kardiovaskuler “Atrium Septal Defect”.
2. Memberikan saran serta alternatif untuk memecahkan masalah dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem kardiovaskuler “Ventrikle Septal Defect”.

C. Metode Penulisan
Penulisan laporan kasus ini menggunakan metode deskriptif yaitu metode yang menggambarkan penyakit Atrium Septal Defect dengan cara:

1. Studi kepustakaan / literatur
Metode ini dilakukan dengan cara mempelajari buku – buku dan sumber lain yang berhubungan dengan judul makalah.

D. Ruang lingkup penulisan
Dalam penulisan makalah ini kelompok hanya membahas tentang Asuhan Keperawatn Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler “Atrial Septal Defect dan Ventrikle Septal Defect” yang berdasarkan teoritis.

E. Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari IV bab yang disusun dengan sistematikasebagai berikut:
BAB I : Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang penulisan, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.
BAB II : landasan teoritis yang terdiri dari anatomi fisiologi dan konsep dasar penyakit
BAB III : Asuhan keperawatan Atrium Septal Defect
BAB IV : Penutup

DAFTAR PUSTAKA









BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Anatomi Fisiologi Kardiovaskuler
1. Jantung
Jantung merupakan sebuah organ muskuler berongga yang terdiri dari otot-otot. Otot jantung merupakan jaringan istimewa karena jika dilihat dari bentuk dan susunannya sama dengan otot serat lintang, dan cara kerjanya dipengaruhi oleh susunan saraf otonom atau diluar kemauan kita.
Bentuk jantung menyerupai jantung pisang bagian atasnya tumpul (pangkal jantung) yang disebut juga basis kordis, disebelah bawah agak runcing yang disebut apeks cordis. Jantung terletak dirongga dada sebelah depan (cavum mediastinum anterior), sebelah kiri bawah dari pertengahan rongga dada, diatas diafragma, dan pangkalnya terdapat dibelakang kiri antara costa V dan VI, dua jari dibawah papila mamae. Pada tempat ini teraba adanya denyutan jantung yang disebut iktuscordis. Ukuran jantung + sebesar genggaman tangan kanan dan beratnya kira-kira 250 – 300 gram.


2. Lapisan Jantung
(Menurut Syaifiuddin 2006 hal, 122) lapisan jantung terdiri dari 3 lapisan:
a. Perikardium
Lapisan ini merupakan lapisan terluar dari jantung yang merupakan selaput pembungkus, yang terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan parietal dan viseral yang bertemu di pangkal jantung membentuk kantung jantung.


b. Miokardium
Lapisan ini merupakan lapisan inti dari jantung yang terdiri dari otot-otot jantung, otot jantung ini membentuk bundalan-bundalan otot yaitu :
1) Bundalan otot atria, yang terdapat dibagian kiri atau kanan dari basis cordis yang membentuk serambi atau aurikula cordis.
2) Bundalan otot ventrikel, yang membentuk bilik jantung, yang dimulai dari cincin atrio ventikuler sampai di apeks jantung.
3) Bundalan otot atrio ventrikuler, merupakan dinding pemisah antara serambi dan bilik jantung.

c. Endokardium
Merupakan lapisan jantung yang terdapat disebelah dalam yang terdiri dari jaringan endotel atau selaput lendir yang melapisi permukaan rongga jantung.
3. Ruang Jantung




a. Atrium kanan
Berfungsi sebagai penyimpan darah yang berasal dari vena cava superior dan inferior dan pemyalur darah dari vena – vena sirkulasi sistemik kedalam ventrikel kanan kemudian ke paru – paru.
b. Ventrikel kanan
Ventrikel kanan berbentuk bulan sabit yang unik guna menghasilkan kontraksi bertekanan rendah yang cukup untuk mengalirkan darah kedalam arteri pulmonalis
c. Atrium kiri
Atrium kiri menerima darah yang sudah di oksigenisasikan dari paru – paru melalui vena pulmonalis
d. Ventrikel kiri
Ventrikel kiri meghasilkan tekanan yang tinggi untuk mengatasi tahanan sirkulasi sistemik dan mempertahankan aliran darah ke jaringan perifer.
4. Katup-katup Jantung
Katup jantung berfungsi mempertahankan aliran darah searah melaui bilik-bilik jantung. Ada 2 jenis katup jantung yaitu katup atrioventrikularis (katup AV) yang memisahkan atrium dengan ventrikel, dan katup semilunaris yang memisahkan arteri pulmonalis dan aorta dari ventrikel yang bersangkutan. Katup-katup ini membuka dan menutup secara pasif, menanggapi perubahan tekanan dan volume dalam bilik-bilik jantung dari pembuluh darah.
a. Katup Atrioventrikularis
Katup ini terbagai atas 2 katup yaitu :
1) Katup trikuspidalis
Terletak diantara atrium kanan dan ventrikel kanan, yang berfungsi sebagai penerima suplai darah dari atrium kanan dan menyalurkan ke ventrikel kanan.
2) Katup bikuspidalis atau mitral
Terletak antara atrium kiri dan ventrikel kiri, berfungsi sebagai penerima suplai darah yang kaya O2 dari atrium kiri kemudian dialirkan ke ventrikel kiri.
b. Katup Semilunaris
Terdiri dari 2 katup yaitu :
1) Katup pulmonalis
Terletak antara ventrikel kanan dan arteri pulmonalis, berfungsi mengalirkan darah ke paru-paru.
2) Katup aorta
Terletak antara ventrikel kiri dan aorta, berfungsi mengalirkan darah ke seluruh tubuh.

5. Sistem Peredaran Darah Manusia
Macam Peredaran Darah
Peredaran darah manusia merupakan peredaran darah tertutup karena darah yang dialirkan dari dan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah dan darah mengalir melewati jantung sebanyak dua kali sehingga disebut sebagai peredaran darah ganda yang terdiri dari :









a. Peredaran darah panjang/besar/sistemik
Adalah peredaran darah yang mengalirkan darah yang kaya oksigen dari bilik (ventrikel) kiri jantung lalu diedarkan ke seluruh jaringan tubuh. Oksigen bertukar dengan karbondioksida di jaringan tubuh. Lalu darah yang kaya karbondioksida dibawa melalui vena menuju serambi kanan (atrium) jantung.
b. Peredaran darah pendek/kecil/pulmonal
Adalah peredaran darah yang mengalirkan darah dari jantung ke paru-paru dan kembali ke jantung. Darah yang kaya karbondioksida dari bilik kanan dialirkan ke paru-paru melalui arteri pulmonalis, di alveolus paru-paru darah tersebut bertukar dengan darah yang kaya akan oksigen yang selanjutnya akan dialirkan ke serambi kiri jantung melalui vena pulmonalis.
Proses peredaran darah dipengaruhi juga oleh kecepatan darah, luas penampang pembuluh darah, tekanan darah dan kerja otot yang terdapat pada jantung dan pembuluh darah.
Pada kapiler terdapat spingter prakapiler mengatur aliran darah ke kapiler :
1) Bila spingter prakapiler berelaksasi maka kapiler-kapiler yang bercabang dari pembuluh darah utama membuka dan darah mengalir ke kapiler.
2) Bila spingter prakapiler berkontraksi, kapiler akan tertutup dan aliran darah yang melalui kapiler tersebut akan berkurang.
B. Konsep Dasar Penyakit
1. Pengertian Atrium Septal Defect (ASD)
a. Atrium Septal Defect (ASD)
Atrium Septal Defect (ASD) adalah penyakit jantung bawaan berupa lubang (defek) pada septum interatrial (sekat antar serambi) yang terjadi karena kegagalan fungsi septum interatrial semasa janin. Atrial Septal Defect (ASD) adalah suatu lubang pada dinding (septum) yang memisahkan jantung bagian atas (atrium kiri dan atrium kanan).
Kelainan jantung ini mirip seperti Ventrikel Septal Defect (VSD), tetapi letak kebocoran di septum antara serambi kiri dan kanan. Kelainan ini menimbulkan keluhan yang lebih ringan dibanding VSD.
Atrial Septal Defect (ASD) adalah adanya hubungan (lubang) abnormal pada sekat yang memisahkan atrium kanan dan atrium kiri. Kelainan jantung bawaan yang memerlukan pembedahan jantung terbuka adalah defek sekat atrium.
Defek sekat atrium adalah hubungan langsung antara serambi jantung kanan dan kiri melalui sekatnya karena kegagalan pembentukan sekat. Defek ini dapat berupa defek sinus venousus di dekat muara vena kava superior, foramen ovale terbuka pada umumnya menutup spontan setelah kelahiran, defek septum sekundum yaitu kegagalan pembentukan septum sekundum dan defek septum primum adalah kegagalan penutupan septum primum yang letaknya dekat sekat antar bilik atau pada bantalan endokard.



Macam-macam defek sekat ini harus ditutup dengan tindakan bedah sebelum terjadinya pembalikan aliran darah melalui pintasan ini dari kanan ke kiri sebagai tanda timbulnya sindrome Eisenmenger. Bila sudah terjadi pembalikan aliran darah, maka pembedahan dikontraindikasikan. Tindakan bedah berupa penutupan dengan menjahit langsung dengan jahitan jelujur atau dengan menambal defek dengan sepotong dakron. Berdasarkan lokasi lubang, diklasifikasikan dalam 3 tipe, yaitu:
1) Ostium Primum (ASD 1), letak lubang di bagian bawah septum,mungkin disertai kelainan katup mitral.
2) Ostium Secundum (ASD 2), letak lubang di tengah septum.
3) Sinus Venosus Defek, lubang berada diantara Vena Cava Superior dan Atrium Kanan.

b. Etiologi
Penyebabnya belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian ASD, faktor – faktor tersebut diantaranya:
1) Faktor prenatal
a) Ibu menderita infeksi rubella
b) Ibu Alkoholisme
c) Umur ibu lebih dari 40 Tahun
d) Ibu menderita IDDM
e) Ibu meminum obat – obatan penenang atau jamu
2) Faktor genetik
a) Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan
b) Ayah atau ibunya menderita penyakit jantung bawaan
c) Kelainan kromosom misalnya sindrom down
d) Lahir dengan kelainan bawaan lain
ASD merupakan suatu kelainan jantung bawaan. Dalam keadaan normal, pada peredaran darah janin terdapat suatu lubang diantara atrium kiri dan kanan sehingga darah tidak perlu melewati paru-paru. Pada saat bayi lahir, lubang ini biasanya menutup. Jika lubang ini tetap terbuka, darah terus mengalir dari atrium kiri ke atrium kanan (shunt). Penyebab dari tidak menutupnya lubang pada septum atrium ini tidak diketahui.


c. Patofisiologi
Pada kasus Atrial Septal Defect yang tidak ada komplikasi, darah yang mengandung oksigen dari Atrium Kiri mengalir ke Atrium Kanan tetapi tidak sebaliknya. Aliran yang melalui defek tersebut merupakan suatu proses akibat ukuran dan complain dari atrium tersebut. Normalnya setelah bayi lahir complain ventrikel kanan menjadi lebih besar daripada ventrikel kiri yang menyebabkan ketebalan dinding ventrikel kanan berkurang. Hal ini juga berakibat volume serta ukuran atrium kanan dan ventrikel kanan meningkat. Jika complain ventrikel kanan terus menurun akibat beban yang terus meningkat shunt dari kiri kekanan bisa berkurang. Pada suatu saat sindroma Eisenmenger bisa terjadi akibat penyakit vaskuler paru yang terus bertambah berat. Arah shunt pun bisa berubah menjadi dari kanan kekiri sehingga sirkulasi darah sistemik banyak mengandung darah yang rendah oksigen akibatnya terjadi hipoksemi dan sianosis.














Pathway ASD
Defek

Darah yg mengandung oksigen
Atrium kiri Atrium kanan
Pembesaran complain ventrikel kanan

Berkurangnya ketebalan dinding ventrikel kanan

Proses pembesaran volume, ukuran dan complain atrium kanan

Tekanan ventrikel kanan menurun
( meningkatkan shunt dari kiri ke kanan )

Vascular paru meningkat( sindrom eisenmenger)
Sirkulasi darah sistemik banyak mengandung darah yang rendah oksigen
Hipotensi dan sianosis







d. Manifestasi klinis
Adapun manifestasi klinis dari Ateri Septal Defect
1) Sering mengalami infeksi saluran pernafasan
2) Dispneu (kesulitan dalam bernafas)
3) Sesak nafas ketika melaukan aktivitas
4) Jantung berdebar – debar (palpitasi)
5) Aritmia
6) Clubbing finger
e. Komplikasi
Adapun komplikasi dari Aterial Septal Defect
1) Gagal jantung
2) Penyakit pembuluh darah paru
3) Endokarditis
4) Aritmia
5) Clubbing finger
f. Pemeriksaan diagnostik
1) Rontgen dada
2) Ekokardiografi
3) Doppler berwarna
4) Ekokardiografi trans esofageal
5) Kateterisasi jantung
6) MRI dada
7) Foto thorax
g. Penatalaksanaan
1) Pembedahan penutupan defek dianjurkan pada saat anak berusia 5-10 tahun. Prognosis sangat ditentukan oleh resistensi kapiler paru, dan bila terjadi sindrome Eisenmenger, umumnya menunjukkan prognosis buruk.
2) Amplazer Septal Ocluder
3) Sadap jantung (bila diperlukan).
h. Asuhan Keperawatan pada anak dengan Ateri Septal Defect (ASD)
1) Pengkajian
a) Riwayat kesehatan
Bukti penambahan BB yang buruk, makan buruk, intoleransi aktivitas, postur tubuh tidak umum, atau infeksi saluran pernapasan yang sering. Observasi anak terhadap manifestasi ASD
Pada Bayi
- Dispnea, khususnya setelah kerja fisik seperti makan, menangis, mengejan
- Keletihan
- Pertumbuhan dan perkembangan buruk (gagal tumbuh)
Sebagian anak menderita KJB dapat tumbuh dan berkembang secara normal. Pada kasus yang spesifik seperti VSD, ASD dan TF, pertumbuhan fisik anak terganggu, terutama berat badannya. Anak kelihatan kurus dan mudah sakit, terutama karena mengalami infeksi saluran pernapasan. Sedangkan untuk perkembangannya yang sering mengalami gangguan adalah aspek motoriknya.
- Pola Aktivitas
Anak-anak yang menderita TF sering tidak dapat melaksanakan aktivitas sehari-hari secara normal. Apabila melakukan aktivitas yang membutuhkan banyak energi, seperti berlari, bergerak, berjalan-jalan cukup jauh, makan/minum yang tergesa-gesa, menangis atau tiba-tiba jongkok (squating), anak dapat mengalami serangan sianosis. Hal ini dimaksudkan untuk memperlancar aliran darah ke otak. Kadang-kadang tampak pasif dan lemah, sehingga kurang mampu untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari dan perlu dibantu
b) Lakukan pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan yang mendetail terhadap jantung.
(a) Denyut arteri pulmonalis dapat diraba di dada
(b) Pemeriksaan dengan stetoskop menunjukkan bunyi jantung yang Abnormal.
(c) Bisa terdengar murmur akibat peningkatan aliran darah yang melalui katup pulmonalis
(d) Tanda-tanda gagal jantung
(e) Jika shuntnya besar, murmur juga bisa terdengar akibat peningkatan aliran darah yang mengalir melalui katup trikuspidalis
c) Lakukan pengukuran tanda-tanda vital.
d) Kaji tampilan umum, perilaku, dan fungsi:
(1) Inspeksi
(a) Status nutrisi–Gagal tumbuh atau penambahan berat badan yang buruk berhubungan dengan penyakit jantung.
(b) Warna – Sianosis adalah gambaran umum dari penyakit jantung kongenital, sedangkan pucat berhubungan dengan anemia, yang sering menyertai penyakit jantung.
(c) Deformitas dada – Pembesaran jantung terkadang mengubah konfigurasi dada.
(d) Pulsasi tidak umum – Terkadang terjadi pulsasi yang dapat dilihat.
(e) Ekskursi pernapasan – Pernapasan mudah atau sulit (mis; takipnea, dispnea, adanya dengkur ekspirasi).
(f) Jari tabuh – Berhubungan dengan beberapa type penyakit jantung kongenital.
(g) Perilaku – Memilih posisi lutut dada atau berjongkok merupakan ciri khas dari beberapa jenis penyakit jantung.
(2) Palpasi dan perkusi
(a) Dada – Membantu melihat perbedaan antara ukuran jantung dan karakteristik lain (seperti thrill-vibrilasi yang dirasakan pemeriksa saat mampalpasi)
(b) Abdomen – Hepatomegali dan/atau splenomegali mungkin terlihat.
(c) Nadi perifer – Frekwensi, keteraturan, dan amplitudo (kekuatan) dapat menunjukkan ketidaksesuaian.
(3) Auskultasi
(a) Jantung – Mendeteksi adanya murmur jantung.
(b) Frekwensi dan irama jantung – Menunjukkan deviasi bunyi dan intensitas jantung yang membantu melokalisasi defek jantung.
(c) Paru-paru – Menunjukkan ronki kering kasar, mengi.
(d) Tekanan darah – Penyimpangan terjadi dibeberapa kondisi jantung (mis; ketidaksesuaian antara ekstremitas atas dan bawah) Bantu dengan prosedur diagnostik dan pengujian – mis; ekg, radiografi, ekokardiografi, fluoroskopi, ultrasonografi, angiografi, analisis darah (jumlah darah, haemoglobin, volume sel darah, gas darah), kateterisasi jantung.


2) Diagnosa keperawatan
a) Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur
b) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen
c) Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan ketidak adekuatan oksigen dan nutrien pada jaringan; isolasi sosial.
d) Resiko tinngi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah
e) Resiko tinggi cedera (komplikasi )berhubungan dengan kondisi jantung dan terapi
f) Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit jantung (ASD)

3) Rencana keperawatan
a) Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur
Tujuan : Klien akan menunjukan perbaikan curah jantung
kriteria hasil
(1) Frekwensi jantung, tekanan darah, dan perfusi perifer berada pada batas normal sesuai usia
(2) Keluaran urine adekuat (antara 0,5 – 2 ml/kg BB, tergantung pada usia)
Intervensi keperawatan
(1) Beri digoksin sesuai program
(2) Beri obat penurun afterload sesuai program
(3) Beri diuretik sesuai program
Rasional
Dengan menggunakan menggunakan kewaspadaan yang dibuat untuk mencegah toxisitas

b) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen
Tujuan : klien mempertahankan tingkat energi yang adekuat tanpa stress tambahan
Kriteria Hasil
(1) Anak menentukan dan melakukan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan
(2) Anak mendapatkan waktu istirahat atau tidur yang tepat
Intervensi
(1) Berikan periode istirahat yang sering dan periode tidur tanpa gangguan
(2) Anjurkan prmainan dan aktivitas tenang
(3) Bantu anak memilih aktivitas yang sesuai dengan usia, kondisi, dan kemampuan.
(4) Hindari suhu lingkungan yang ekstrem karena hipertermia atau hipotermia meningkatkan kebutuhan oksigen
(5) Implementasikan tindakan untuk menurunkan ansietas
(6) Berespon dengan segera terhadap tangisan atau ekspresi lain dari strees

c) Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan ketidak adekuatan oksigen dan nutrien pada jaringan; isolasi sosial.
Tujuan : pasien mengikuti kurva pertumbuhan berat badan dan tinggi badan
Kriteria Hasil:
(1) Anak mencapai pertumbuhan yang adekuat
(2) Anak melakuakan aktivitas sesuai usia
(3) Anak tidak mengalami isolasi sosial
Intervensi
(1) Beri diet tinggi nutrisi yang seimbang untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat
(2) Pantau tinggi dan brat badan; gambarkan pada grafik pertumbuhan untuk menentukan kecendrungan pertumbuhan
(3) Dapat memberikan suplemen zat besi untuk mengatasi anemia, bila di anjurkan
(4) Dorong aktivitas yang sesuai usia.
(5) Tekankan bahwa anak mempunyai kebutuhan yang sama terhadap sosialisasi seperti anak yang lain.
(6) Izinkan anak menata ruanganya sendiri dan batasan aktivitas karena anak akan beristirahat bila lelah.
d) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah
Tujuan : klien tidak menunjukan bukti – bukti infeksi
Kriteria Hasil
- Anak bebas dari infeksi
Intervensi
(1) Hindari kontak dengan individu yang terinfeksi
(2) Beristirahat yang adekuat
(3) Beri nutrisi optimal untuk mendukung pertahanan alami



e) Resiko tinggi cedera (komplikasi )berhubungan dengan kondisi jantung dan terapi
Tujuan : klien / keluarga mengenali tanda – tanda komplikasi secara dini
Kriteria hasil
(1) Keluarga mengenali tanda – tanda komplikasi dan melakukan tindakan yang tepat
(2) Klien / keluarga menunjukan pemahaman tentang tes diagnostik dan pembedahan

Intervensi
(1) Ajari keluarga untuk mengenali tanda – tanda komplikasi:
Gagal jantung kongestif:
(a) Takikardi, khususnya selama istirahat dan aktivitas rigan
(b) Takipnea
(c) Keringat banyak di kulit kepala, khusunya pada bayi
(d) Keletihan
(e) Penambahan berat badan yang tiba – tiba
(f) Distress pernapasan
Toksisitas digoksin
(a) Muntah (tanda paing dini)
(b) Mual
(c) Anoreksia
(d) Bradikardi
(e) Disritmia
(f) Peningkatan upaya pernafasan – retraksi, mengorok, batuk, sianosis
(g) Hipoksemia – sianosis, gelisah.
(h) Kolaps kardiovaskuler – pucat, sianosis, hipotonia.
(2) Ajari keluarga untuk melakukan intervensi selam serangan hipersianotik
(a) Tempatkan anak pada posisi lutut – dada dengan kepala dan dada ditinggikan
(b) Tetap tenang
(c) Beri oksigen 100% dengan asker wajah bila ada
(3) Jelaskan atau klarifikasi informasi yang diberikan oleh praktisi dan ahl bedah pada keluarga
(4) Siapkan anak dan orang tua untuk prosedur
(5) Bantu membuat keputusan keluarga berkaitan dengan pembedahan
(6) Gali perasaan mengenai pilihan pembedahan

f) Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit jantung (ASD)
Tujuan : klien dan keluarga mengalami penurunan rasa tajut dan ansietas , klien menunjukan perilaku koping yang positif
Kriteria Hasil:
(1) Keluarga mendiskusikan rasa takut dan ansietasnya
(2) Keluarga menghadapi gejala anak dengan cara yang positif

Intervensi :
(1) Diskusikan dengan orang tua dan anak (bila tepat) tentang ketakutan mereka dan masalah defek jantung dan gejala fisiknya pada anak karena hal ini sering menyebabkan ansietas/rasa takut.
(2) Dorong keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan anak selama hospitalisasi untuk memudahkan koping yang lebih baik di rumah.
(3) Dorong keluarga untuk memasukkan orang lain dalam perawatan anak untuk mencegah kelelahan pada diri mereka sendiri.
(4) Bantu keluarga dalam menentukan aktivitas fisik dan metode disiplin yang tepat untuk anak

Evaluasi
Proses : langsung setalah setiap tindakan
Hasil : tujuan yang diharapkan
(1) Tanda-tanda vital anak berada dalam batas normal sesuai dengan usia
(2) Anak berpartisipasi dalam aktivitas fisik yang sesuai dengan usia
(3) Anak bebas dari komplikasi pascabedah











2. Defek septum ventrikel (DSV)
a. Definisi
Suatu keadaan abnormal yaitu adanya pembukaan antara ventrikel kiri dan ventrikel kanan.


b. Etiologi
Penyebab penyakit jantung congenital berkaitan dengan kelainan perkembangan embrionik pada usia lima sampai delapan minggu, janutng dan pembuluh besar terbentuk.
Gangguan perkembangan ini disebabkan factor prenatal seperti infeksi ibu selama trimester pertama. Agen penyebab lain adalah rubella, influenza, chicken fox. Factor prenatal seperti ibu menderita DM dengan ketergantungan pada insulin serta factor genetic yang mempengaruhi terjadinya kelainan tersebut. Factor lingkungan seperti radiasi, gizi ibu jelek dan alcohol turut ikut mempengaruhi.

c. Patofisiologi
Adanya defek pada ventrikel, menyebabkan tekanan ventrikel kiri meningkat dan resistensi sirkulasi arteri sistemik lebih tinggi dibandingkan resistensi pulmonal. Hal ini mengakibatkan darah mengalir ke arteri pulmonal melalui defek septum.
Volume darah di paru akan meningkat dan terjadi resistensi pembuluh darah paru. Dengan demikian tekanan diventrikel kanan meningkat akibat adanya shunting dari kiri kekanan. Ini akan beresiko endokarditis dan mengakibatkan terjadinya hipertropi otot ventrikel kanan sehingga akan berdampak pada peningkatan workload sehingga atrium kanan tidak dapat mengimbangi meningkatnya workload, terjadilah pembesaran atrium kanan untuk mengatasi resistensi yang disebabkan oleh pengosongan atrium yang tidak sempurna.



















Parthway
















d. Tanda dan gejala
1) Murmur
2) Distensi vena jugularis
3) Edema
4) Hepatomegali








5) Diaphoresis
6) Tidak mau makan
7) Tacipnea

e. Pemeriksaan diagnostic
1) Auskultasi jantung
2) Pantau tekanan darah
3) Foto roentgen
4) ECG
5) Echocardiogram
6) MRI

f. Penanganan
1) Pembedahan : menutup defek dengan dijahit melalui cardiopulmonary bypass
2) Non pembedahan : menutup defek dengan alat melalui kateterisasi jantung
g. Komplikasi
1) Endokarditis
2) Obstruksi pembuluh darah pulmonal
3) Syndrome eisenmenger
h. Asuhan Keperawatan
1) Pengkajian
a) Riwayat keperawatan; respon fisiologis terhadap defek (sianosis, aktivitas terbatas)
b) Kaji adanya tanda-tanda gagal jantung; nafas cepat, sesak nafas, retraksi.bunyi jantung tambahan (murmur), edema tungkai, hepatomegali.
c) Kaji adanya tanda hypoxia kronis: clubbing finger
d) Kaji pola makan, pola pertambahan berat badan.
2) Diagnosa Keperawatan
a) Penurunan curah jantung berhubungan dengan malmorasi jantung
b) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti pulmonal
c) Tidak toeransi terhadap aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara pemakaian oksigen oleh tubuh dan suplai oksiden ke sel
d) Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan tidak adekuatnya suplai oksigen dan za nutrisi ke jaringan
e) Perubahan nutrisi kurang dari kebuuhan tubuh berhubungan denagn kelelahan pada saat makan dan meningkatnya kebutuhan kalori
f) Resiko infeksi ditandai dengan menurunnya status kesehatan
g) Perubahan peran orang tua berhubungan dengan hospitalisasi anak, kekhawatiran terhadap penyakit anak

3) Perencanaan
a) Meningkatkan curah jantung
(1) Observasi kualitas dan kekuatan denyut jantung, nadi perifer, warna dan kehangatan kulit
(2) Tegakkan derajat sianosis (sirkumorl, membran mukosa, clubbing)
(3) Monitor tanda-tanda CHF (gelisah, takikardi, tachypnea, sesak, lelah saat minum susu, perobital edema, oliguria, dan hepatomegali)
(4) Berkolaborasi dalam pemberian digoxin sesuai order, dengan menggunakan teknik pencegahan bahaya toksisitas
(5) Berikan pengobatan untuk menurunkan afterload
(6) Berikan deuretik sesuai indikasi
b) Meningkatkan resistensi pembuluh paru
(1) Monitor kualitas dan irama pernafasan
(2) Atur posisi anak dengan posisi fowler
(3) Hindarkan anak dari orang terinfeksi
(4) Berikan istirahat yang cukup
(5) Berikan nutrisi yang optimal
(6) Berikan oksigen jika ada indikasi
c) Mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat
(1) Ijinkan anak untuk sering beristirahat, hindarkan gangguan pada saat tidur
(2) Anjurkan untuk bermain dan beraktivitas ringan
(3) Bantu anak memilih aktivitas sesuai usia, kondisi, dan kemampuan anak
(4) Berikan wktu istirahat setelah melakukan aktivitas
(5) Hindarkan suhu linkingan yang terlalu panas dan dingin
(6) Hindarkan hal-hal yang menyebabkan ketakutan/ kecemasan pada anak

d) Mempertahankan berat badan yang sesuai
(1) Diit seimbang, tinggi ntrisi untuk pertumbuhan adekuat
(2) Monitor tinggi dan berat badan, dokumentasikan dalam bentuk grafik untuk mengetahui kecenderungan pertumbuhan anak


e) Mencegah terjadinya infeksi
(1) Hindari kontak dengan individu terinfeksi
(2) Berikan istirahat yang adekuat
(3) Berikan kebutuhan nutrisi yang optimal
f) Mempertahankan intake nutrisi untuk mempertahankan berat badan dan menopang pertumbuhan
(1) Timbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama
(2) Catat intake dan output secara benar
(3) Beri makanan dengan porsi kecil dan sering untuk menghindari kelelahan pada saat makan
(4) Anak yang mendapatkan deuretik biasanya sangat haus, oleh karena itu cairan tidak dibatasi
g) Memberikan dukungan orang tua
(1) Mengurangi ketakutan dan kecemasan orang tua dengan memberikan informasi yang jelas
(2) Libatkan orang tua dalam perawatan anak selama di rumah sakit
(3) Beri dorongan keluarga untuk melibatkan anggota keluarga lain dalam perawatan anak
(4) Eksplorasi perasaan orang tua mengenai ketakuatan, rasa bersalah, berduka, dan perasaan tidak mampu
i. Pengertian
Suatu keadaan abnormal yaitu adanya pembukaan antara ventrikel kiri dan ventrikel kanan. Defek septum ventrikel (DSV) terjadi bila bukaan (septum) ventrikel tidak terhenti sempurna. Akfbatnya darah dari bilik kiri mengalir ke bilik kanan pada saat sistole
Besarnya defek bervariasi dari hanya beberapa mm sampai beberapa cm. Pada defek besar dengan resistensi vaskular paru meninggi tekanan bilik kanan akan sama dengan bilik kiri sehingga pirau kiri ke kanan hanya sedikit. Bila makin besar defek dan makin tinggi tekanan bilik kanan akan terjadi pirau kanan ke kiri (lihat Gambar-24). Berkurangnya darah yang beredar ke dalam tubuh menyebabkan pertumbuhan anak terhambat. Aliran darah ke paru jugs bertambah yang menyebabkan anak Bering menderita infeksi saluran pernapasan. Pada DSV kecil pertumbuhan anak tidak terganggu; sedangkan pada DSV besar dapat terjadi gagal jantung dini yang memerlukan pengobatan medic yang intensif atau bahkan operasioperasi.

j. Patofisiologi
Adanya defek pada ventrikel, menyebabkan tekanan ventrikel kiri meningkat dan resistensi sirkulasi arteri sistemik lebih tinggi dibandingkan resistensi pulmonal. Hal ini akan mengakibatkan darah mengalir ke arteri pulmonal melalui defek septum. Volume darah di paru akan meningkat dan terjadi resistensi pembuluh darah paru. Dengan demikian tekanan di ventrikel kanan meningkat akibat adanya shunting dari kiri ke kanan. Ini akan risiko endokarditis, dan mengakibatkan terjadinya hipertropi otot ventrikel kanan sehingga akan berdampak pada peningkatan workload sehingga atrium kanan tidak dapat mengimbangi meningkatnya workload, terjadilah pembesaran atrium kanan untuk mengatasi resistensi yang disebabkan oleh pengosongan atrium yang tidak sempurna
k. Komplikasi
1) Endokarditis
2) Obstruksi pembuluh darah pulmonal
3) Syndrome Eisenmenger


l. Etiologi
Penyebab secara pasti tidak diketahui. Akan tetapi terdapat beberapa faktor predisposisi penyebab terjadinya VSD, yaitu: pada saat hamil Ibu menderita rubella, ibu hamil dengan alkoholik, usia ibu pada saat hamil lebih dari 40 tahun, ibu menderita IDDM (Insulin Dependent Diabetes Mellitus). Faktor genetik : Anak dengan Down Syndrome memiliki risiko terjadinya VSD.
m. Manifestasi Minis
Adanya tanda-tanda gagal jantung kanan : sesak, terdapat murmur, distensi vena jugularis, edema tungkai, hepatomegali
1) Diaphoresis
2) Tidak mau makan
3) Tachypnea
n. Pemeriksaan Diagnostik
1) Auskultasi jantung
2) Pantau tekanan darah
3) Foto rontgen
4) ECG
5) Echocardiogram
6) MRI
o. Penatalaksanaan Terapeutik
Pembedahan : menutup defek dengan dijahit melalui cardiopulmonary bypass
Non-pembedahan : menutup defek dengan alai melalui kateterisasi jantung



p. Pentalaksanaan- Perawatan
1) Pengkajian
Riwayat keperawatan : respon fisiologis terhadap defek (sianosis, aktivitas terbatas)
Kaji adanya tanda-tanda gagal jantung : nafas cepat, sesak nafas, retraksi, bunyi jantung tambahan (murmur), edema tungkai, hepatomegali,
Kaji adanya tanda hipoxia kronis : clubbing finger
Kaji pola makan, pola pertambahan berat badan
2) Diagnosa Keperawatan
Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan malformasi jantung.
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti pulmonal
Tidak toleransi terhadap aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara pemakaian oksigen oleh tubuh dan suplai oksigen ke sel
Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan tidak adekuatnya suplai oksigen dan zat nutrisi ke jaringan
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelelahan pada saat makan dan meningkatnya kebutuhan kalori.
Risiko infeksi berhubungan dengan menurunnya status kesehatan.
Perubahan peran orang tua berhubungan dengan hospitalisasi anak, kekhawatiran terhadap penyakit anak
3) Perencanaan
Anak akan menunjukkan tanda-tanda membaiknya curah jantung
Anak akan menunjukkan tanda-tanda tidak adanya peningkatan resistensi pembuluh paru.
Anak akan mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat dan anak akan berpartisipasi dalam aktivitas yang dilakukan oleh mak seusianya.
Anak akan tumbuh sesuai dengan kurva pertumbuhan berat dan tinggi badan
Anak akan mempertahankan intake makanan dan minuman untuk mempertahankan berat badan dan menopang pertumbuhan.
Anak tidak akan menunjukkan tanda-tanda infeksi
Orang tua akan mengekpresikan perasaanya karena memiliki anak dengan kelainan jantung, mendiskusikan rencana pengobatan, dan memiliki keyakinan bahwa orang tua memiliki peranan penting dalam keberhasilan pengobatan.
q. Meningkatkan curah jantung
Observasi kualitas dan kekuatan denyut jantung, nadi perifer, warns dan kehangatan kulit.
Tegakkan derajat sianosis (sirkumoral, membran mukosa, clubbing).
Monitor tanda-tanda CHF (gelisah, takikardi, tachypnea, sesak, lelah saat minum susu, periorbital edema, oliguria, dan hepatomegali)
Berkolaborasi dalam pemberian digoxin sesuai order, dengan menggunakan teknik pencegahan bahaya toxisitas.
Berikan pengobatan untuk menurunkan afterload
Berikan diuretik sesuai indikasi.


r. Meningkatan resistensi pembuluh para.
Monitor kualitas dan irama pernafasan Atur posisi anak dengan posisi fowler Hindari anak dari orang yang terinfeksi
Berikan istirahat yang cukup
Berikan nutrisi yang optimal
Berikan oksigen jika ada indikasi
s. Mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat
Ijinkan anak untuk sering beristirahat, dan hindarkan gangguan pada saat tidur.
Anjurkan untuk melakukan permainan dan aktivitas ringan
Bantu anak untuk memilih aktivitas yang sesuai dengan usia, kondisi dan kemampuan anak.
Berikan periode istirahat setalah melakukan aktivitas
Hindarkan suhu lingkungan yang terlalu pangs atau dingin
Hindarkan hal-hal yang menyebabkan ketakutan/ kecemasan pada anak
t. Mempertahankan pertumbuhan berat badan yang sesuai
Sediakan diit yang seimbang, tinggi zat-zat nutrisi untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat
Monitor tinggi dan berat badan, dokumentasikan dalam bentuk grafik untuk mengetahui kecendrungan pertumbuhan anak
u. Mempertahankan intake makanan dan minuman untuk mempertahankan berat badan dan menopang pertumbuhan.
Timbang berat badan setiap hari dengan timbangan yang sama, dan waktu yang sama
Catat intake dan output secara benar
Berikan makanan dengan porsi kecil tapi sering untuk menghindari kelelahan pada saat makan
4) Anak-anak yang mendapatkan diuretik biasanya sangat haul, oleh karma itu cairan tidak dibatasi.
a. Mencegah terjadinya infeksi
1) Hindari kontak dengan individu yang terinfeksi
2) Berikan istirahat yang adekuat
3) Berikan kebutuhan nutrisi yang optimal
b. Memberikan dukungan orang tua
Ajarkan orang tua untuk mengekspresikan perasaanya akibat memiliki anak dengan kelainan jantung, mendiskusikan rencana pengobatan, dan memiliki keyakinan bahwa orang tua memiliki peranan penting dalam keberhasilan pengobatan.
Eksplorasi perasaan orang tua mengenai perasaan ketakutan, rasa bersalah, berduka, dan perasaan tidak mampu.
Mengurangi ketakutan dan kecemasan orang tua dengan memberikan informasi yang jelas
Libatkan orang tua dalam perawatan anak selama di rumah sakit
Memberikan dorongan kepada keluarga untuk melibatkan anggota keluarga lain dalam perawatan anak.
6. Perencanaan Pemulangan
Kontrol sesuai waktu yang ditentukan
jelaskan aktivitas yang dapat dilakukan anak sesuai dengan usia dan kondisi penyakit
Mengajarkan keterampilan yang diperlukan di rumah, yaitu:
teknik pemberian obat
tehnik pemberian makanan
tindakan untuk mengatasi jika terjadi hal-hal yang mencemaskan
tanda-tanda komplikasi, siapa yang akan dihubungi jika membutuhkan pertolongan.

BAB III
PENUTUP
A. kesimpulan
Jantung
Jantung merupakan sebuah organ muskuler berongga yang terdiri dari otot-otot. Otot jantung merupakan jaringan istimewa karena jika dilihat dari bentuk dan susunannya sama dengan otot serat lintang, dan cara kerjanya dipengaruhi oleh susunan saraf otonom atau diluar kemauan kita.
a. Atrium Septal Defect (ASD)
Atrium Septal Defect (ASD) adalah penyakit jantung bawaan berupa lubang (defek) pada septum interatrial (sekat antar serambi) yang terjadi karena kegagalan fungsi septum interatrial semasa janin. Atrial Septal Defect (ASD) adalah suatu lubang pada dinding (septum) yang memisahkan jantung bagian atas (atrium kiri dan atrium kanan).
b. Definisi
Suatu keadaan abnormal yaitu adanya pembukaan antara ventrikel kiri dan ventrikel kanan.

B. Saran
Bagi pembaca di sarankan untuk memahami hal-hal yang berkaitan dengan jantung ASD/ VSD Sehingga dapat di lakukan upaya-upaya yang bermanfaat untuk menanganinya secara efektif dan efisien .
• Mahasiswa kesehatan sebaiknya memahami dan mnegetahui konsep. Atrium septum defek/ ventrikel septum defek dan askep nya guna unttuk mengaplikasikan dalam memberikan pelayanan kepada pasien
• Perawat memiliki pengetahuan tentang ASD/ VSD untuk dapat mempengaruhi orang tua dalam menjalani pengobatan untuk sehingga penyakit lebih berat dapat dihindari .
• Pelayanan keperawatan dapat memberikan anjuran kepada orang tua untuk melalukan terapi agar ASD/ VSD dapat teratasi

























DAFTAR PUSTAKA

Behrman et al. 1996. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Edisi 15. (Alih bahasa oleh Samik Wahab tahun 2000). EGC. Jakarta.

Hidayat, A. Azis Alimul. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Salemba Medika. Jakarta.

Markum, A. H. 1991. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Volume 1. Gaya Baru. Jakarta.

Nursalam dkk. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan anak untuk Perawat dan Bidan. Salemba Medika. Jakarta.

Speer, Kathleen Morgan. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pediatric dengan Clinical Pathways, Edisi Tiga. (Alih bahasa oleh Julianus Ake dan Renata Komalasari tahun 2008). EGC. Jakart


















DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan Penulisan 1
C. Metode Penulisan 1
D. Ruang lingkup penulisan 2
E. Sistematika Penulisan 2

BAB II LANDASAN TEORITIS
A. Anatomi Fisiologi Kardiovaskuler 3
B. Konsep Dasar Penyakit 8

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 36
B. Saran 36
DAFTAR PUSTAKA











KATA PENGANTAR

Assalamuallaikum.wr.wb
Alhamdulilah hirabbilalamin,dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT. Atas berkat rahmat dan hidayahNya maka kami dapat menyelesaikan makalah dengan lancar.
Terselesainya makalah ini berkat kerja sama dari berbagai pihak untuk itu kami ucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing Ibu Ns. Lintang Sari, S.Kep serta rekan–rekan yang memberikan masukan dan gagasan tentang makalah yang kami susun.
Kami menyadari bahwa makalah kami banyak terdapat kekurangan dan kesalahan baik dari sisi tulisan maupun sistem penulisan, maka dari itu kami mohon maaf dan mengucapkan terima kasih atas kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Semoga apa yang kami sajikan pada makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua.


Pontianak, Desember 2010

Penulis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar